Saya sedang mengerjakan sebuah artikel riset tentang perkembangan ekonomi kreatif di Bandung. Sengaja saya langsung tulis di multiply biar yang mau ikut ngebahas bisa sekalian nimbrung...

I


Sudah selama beberapa bulan terakhir ini saya banyak mengumpulkan dan membaca artikel tentang perkembangan industri kreatif di kota Bandung. Selain melakukan kegiatan pengarsipan informasi digital di www.bandungcreativecityblog.wordpress.com, saya juga sempat menghadiri beberapa pertemuan yang secara khusus membicarakan masalah ini. Diantaranya mungkin masih ada yang ingat dengan pertemuan Bandung Creative City Forum di Common Room pada tanggal 7 Februari 2008 yang telah lalu. Selain itu ada banyak diskusi, seminar, pertemuan dan rapat-rapat khusus yang membahas peluang pengembangan industri kreatif di kota Bandung. Penyelenggaranya mulai dari komunitas, organisasi, universitas, sampai pada pemerintah pusat dan daerah.

Setelah menghadiri sebuah pertemuan di Yokohama, Ridwan Kamil (arsitek/ urban planer, URBANE) menyatakan bahwa dengan segala potensi yang dimilikinya, kota Bandung telah mendapatkan penghargaan dan menjadi bagian dari jaringan pengembangan kota kreatif yang menghubungkan beberapa kota semisal Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Hanoi, Hong Kong, Taipei, London, Auckland, Istambul, Bogota dan Glasgow. Sampai tiga tahun ke depan, kota Bandung akan menjadi proyek percontohan pengembangan kota kreatif se-Asia Pasifik.

Hal ini pertama kali diungkap dalam seminar International Education & Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council di Bandung pada tanggal 29 s/d 31 Oktober 2007. Dalam pameran Bandung Creative Showcase yang diselenggarakan di Common Room pada waktu yang sama, beberapa delegasi seminar tersebut bahkan menyatakan bahwa mereka harus belajar dari pengalaman kota Bandung yang dapat mengembangkan aktifitas ekonomi kreatif yang berbasis komunitas dan peran usaha kecil dan menengah (UKM). Apa yang terjadi di kota Bandung bisa jadi merupakan kasus unik yang hanya bisa terjadi di negara berkembang. Hal ini tentunya merupakan sebuah contoh bagaimana kreatifitas betul-betul mampu menjadi pemicu gelombang pertumbuhan ekonomi baru di kawasan ini.

II


Banyak diantara teman saya yang bertanya mengenai pengertian dari ekonomi kreatif. Dari berbagai definisi yang saya kumpulkan, saya menyimpulkan kalau aktifitas ekonomi kreatif merupakan serangkaian kegiatan  produksi dan distribusi barang maupun jasa yang dikembangkan melalui penguasaan di bidang informasi, pengetahuan dan kreatifitas. Ekonomi kreatif sangat menyandarkan aktifitasnya pada proses penciptaan dan transaksi nilai. Artinya aspek sumberdaya manusia (talent), teknologi, keberagaman budaya, dan pasar yang kritis (critical mass) merupakan sebuah ekosistem yang sangat dibutuhkan, bahkan dicari oleh para pelaku industri kreatif di seluruh dunia. Banyak orang yang berpandangan kalau Bandung sudah memiliki ekosistem yang dimaksud. Mudah-mudahan pandangan ini benar.

Mungkin bisa saja kita bayangkan sendiri. Kondisi lingkungan yang sejuk dan ukuran kota yang tidak begitu besar tampaknya lebih memungkinkan warga kota Bandung untuk dapat bergerak dan berinteraksi dengan lebih leluasa. Selama ini Bandung juga dikenal sebagai sebuah kota yang memiliki sumberdaya manusia yang relatif lebih ideal apabila dibandingkan dengan kota lain. Ada banyak sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi yang menjadi pemasok ratusan komunitas kreatif di kota ini. Selain itu, sikap masyarakat kota Bandung yang terbuka dan toleran membuat karakter mereka lebih dinamis dalam mengadaptasi perubahan. Hikmat Budiman (Penulis buku Lubang Hitam Kebudayaan) bahkan menyatakan kalau generasi muda di kota Bandung mampu mengadaptasi trend global dan mendefinisikan perkembangan yang ada sesuai dengan konteks mereka. Dia bahkan menambahkan kalau selama ini telah terbangun pasar yang menyerap berbagai kecenderungan yang ada.

Saya jadi teringat pada acara The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang diselenggarakan pada tanggal 4 - 12 Agustus 2005 di kota Bandung. Waktu itu kami mengundang sekitar 20 mahasiswa seni dari negara Asia dan Eropa untuk mengikuti serangkaian diskusi dan workshop di bidang seni, media dan teknologi. Salah satu topik yang dibahas pada saat itu salah satunya adalah wacana mengenai fenomena dan pertumbuhan ekonomi kreatif. Seorang pembicara yang bernama Rob van Kranenburg (Waag Society, NL) waktu itu menyatakan kalau pemerintah Belanda sangat menyadari kalau aplikasi seni, media dan teknologi merupakan sendi penting bagi perkembangan di bidang ekonomi kreatif. Oleh karena itu, di Belanda pemerintahnya banyak berinvestasi dan memberikan dukungan bagi aktifitas yang berhubungan dengan seni dan perkembangan teknologi.

Selanjutnya perbincangan mengenai ekonomi kreatif kembali mengemuka pada sebuah seminar internasional Artepolis 2006: Creative Culture and the Making of Place, yang diselenggarakan oleh Departemen Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Arsitektur - ITB dan Pusat Studi Urban Desain (PSUD-ITB). Saat itu, ada banyak pendapat yang menyatakan pentingnya untuk mengembangkan aktifitas ekonomi kreatif yang mengedepankan peran partisipasi komunitas masyarakat, penentu kebijakan publik dan tata kelola lingkungan hidup yang baik. Hal ini terutama agar berbagai bentuk sumber daya yang ada bisa dimanfaatkan dengan maksimal sehingga dapat menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi maupun kehidupan warga masyarakat secara umum.

III


Melalui berbagai arsip dokumentasi yang saya kumpulkan, ada beberapa temuan yang menggembirakan namun sekaligus menyedihkan terjadi di kota Bandung selama 10 - 15 tahun terakhir. Seiring dengan situasi perubahan dan perkembangan yang pesat di bidang teknologi informasi, telah lahir sebuah generasi baru yang ikut membentuk wajah kota Bandung masa kini. Kebanyakan didominasi oleh para musisi, seniman dan desainer muda di kota Ini. Melalui  buah tangan mereka, ada banyak karya cemerlang yang dihasilkan sehingga mereka berhasil membawa kota Bandung masuk ke dalam kancah dunia global.

Yang mengherankan, perkembangan ini sepertinya sama sekali tidak tersentuh oleh berbagai kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah. Bahkan bisa dikatakan pemerintah kita terlambat dalam menyadari potensi yang dimiliki oleh masyarakatnya. Dengan segala keterbatasan, berbagai komunitas anak mudia di kota Bandung berhasil mengembangkan potensi dan kreatifitas mereka secara mandiri. Dalam sebuah catatan, gelombang ekonomi baru yang digerakan oleh anak muda di kota Bandung berhasil menciptakan sekurang-kurangnya 650.000 lapangan kerja baru. Sebagaian besar diantaranya diisi oleh mereka yang berkarya di bidang musik, fashion, seni, desain, arsitektur sampai dunia IT.

Pada pertemuan di Auditorium Rosada pada tanggal 2 Mei 2008, Pemerintah Kotamadya Bandung akhirnya memperlihatkan dukungan penuh bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif melalui rencana pembentukan kebijakan dan pembangunan infrastruktur kota. Hal ini diharapkan dapat menjawab ironi akan berbagai potensi yang dimiliki oleh kota Bandung yang sepertinya masih berserakan dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak pihak yang kemudian sangat berharap kalau dukungan pemerintah bisa mendorong perkembangan ekonomi kreatif ke arah yang lebih baik. Selama ini, berbagai perkembangan di bidang ekonomi kreatif sepertinya memang belum tersentuh oleh kebijakan publik dan prasarana yang memadai sehingga perkembangan yang ada berjalan secara tersendat-sendat.

Kita mungkin masih ingat akan insiden Sabtu Kelabu yang merenggut 11 nyawa anak muda ketika terjadi kericuhan selepas konser kelompok Beside di gedung AACC pada tanggal 9 Februari 2008. Lepas dari faktor kelalaian penyelenggara dalam mengelola konser, insiden ini menunjukan kalau sampai saat ini kota Bandung belum memiliki fasilitas publik yang mampu mengakomodasi aspirasi dan kreatifitas yang dimiliki oleh warganya. Hal ini terasa semakin miris ketika pemerintah memperketat penerbitan izin konser musik sehingga beberapa pekerja di bidang ini harus ikut-ikutan mengencangkan ikat pinggang sebagai buntut dari terjadinya insiden. Selain itu, ruang publik tempat berbagai komunitas berkumpul dan berinteraksi rasanya semakin minim, sehingga ruang untuk membangun jejaring dan berekspresi secara bebas semakin terbatas.

Sementara itu, kita juga sama-sama tahu kalau ada ketimpangan yang terjadi di sektor produksi. Kebijakan yang ada saat ini dianggap lebih mendahulukan kepentingan pengusaha, sehingga kondisi buruh belum tersentuh dan nyaris tidak terperhatikan. Contohnya ada banyak diantara para pekerja sablon, penjahit sampai penjaga gerai-gerai toko terpaksa hidup dengan cara yang tidak layak dengan gaji di bawah standar. Ketimpangan penghasilan yang dihasilkan oleh angin sepoi-sepoi pertumbuhan ekonomi kreatif tampaknya lebih banyak menguntungkan para pemilik modal ketimbang pekerjanya. Tidaklah mengherankan juga kalau ada banyak juga seniman, desainer dan musisi yang harus hidup seadanya karena kondisi ini.

IV


Di bidang pendidikan situasinya tidak kalah menyedihkan. Dunia kreatifitas membutuhkan sumberdaya yang memiliki potensi dan karakter individu yang otentik. Sistem pendidikan formal yang sedianya dikembangkan agar dapat menggali karakter dan potensi individu ikut-ikutan mandul karena standarisasi. Kegiatan pendidikan saat ini banyak yang didominasi oleh sistem dan tata kelola yang kurang ideal, sehingga kebanyakan sumber daya kreatif justru dapat lebih bekembang lewat model pendidikan di luar sekolah yang sangat mengandalkan jaringan pertemanan dan komunitas. Di kalangan anak muda, ada banyak yang merasa bahwa kreatifitas yang mereka miliki justru dipasung ketika mereka berada di lingkungan sekolah formal.

Internet, salah satu sarana untuk mengakses informasi dan pengetahuan bagi masyarakat juga saat ini semakin diawasi. Pada tanggal 25 Maret 2008 pemerintah menerbitkan Undang-Undang Informasi dan Elektronika (UU ITE) yang membuka peluang untuk melakukan pembatasan akses dan kriminalisasi bagi pengguna internet. Hampir sebulan setelahnya, pada tanggal 2 April 2008 pemerintah menyebarkan surat pemblokiran situs yang memasang film Fitna yang diproduksi dan disebarkan oleh politisi sayap kanan Belanda yang bernama Geert Wilders. Beberapa situs penyedia jaringan sosial semisal Youtube, Myspace, Multiply, dsb., diblokir selama satu minggu lebih. Hal ini memicu polemik yang mempersoalkan kebebasan untuk mengakses informasi bagi masyarakat umum. Dalam hal ini pembatasan sepihak oleh pemerintah ditakutkan memasung akses atas informasi dan pengetahuan yang menjadi modal dasar bagi pengembangan platform ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Ketidakjelasan hukum semakin memperparah situasi karena ada banyak pekerja kreatif yang harus kehilangan hak mereka karena aktifitas pembajakan dan pemalsuan. Saat ini, ekosistem bisnis kreatif yang ada di kota Bandung bahkan terancam oleh pembajakan yang semakin membabi buta. Sungguh patut untuk disayangkan mengingat ekosistem ini dibangun dengan susah payah dan pengorbanan oleh banyak pihak. Hal ini juga berhimpitan dengan situasi ekonomi yang tak kunjung menentu. Terasa semakin menakutkan ketika membayangkan resesi yang semakin menghantui di tengah melonjaknya harga minyak dan komoditi. Tidaklah mengherankan kalau daya beli masyarakat harus berkompromi dengan situasi. Hari-hari ini ada semakin banyak orang yang lebih untuk rela antri gas dan minyak tanah ketimbang nonton konser atau beli baju baru.

Apabila saya bayangkan lebih jauh, rasanya situasi semakin runyam saja. Namun ada satu hal yang membuat saya tetap optimis. Etos kemandirian yang dimiliki oleh para pekerja kreatif di kota Bandung bisa jadi merupakan jawaban atas gejala krisis ekonomi baru yang semakin menunjukan tanda-tandanya selama beberapa waktu terakhir ini. Saya masih ingat bagaimana generasi muda di kota Bandung justru memulai geliat mereka ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Di tengah situasi ekonomi dan politik yang serba chaos saat itu, komunitas kreatif di kota Bandung justru berhasil bergerak dan menjadi pendobrak. Mudah-mudahan pengalaman yang kita miliki dapat menjadi solusi dan menjaga harapan akan masa depan yang lebih baik. Tabik!

28 CommentsChronological   Reverse   Threaded
journalin wrote on May 9
Wah,asyiiik Gustaff membahas ini. Gw mau ngebahas ini buat skripsi nih kayaknya. Kalau diterima sama kampus, sepertinya gw perlu wawancara elu nih hehe...Kalau gw ikut seminar tentang ekonomi kreatif kok selalu hubungannya sebatas film, musik,dan clothing sih, kenapa yah?
fitoriobowoleksono wrote on May 9
Hal ini diungkap dalam seminar International Education & Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council di Bandung pada tanggal 29 s/d 31 Oktober 2008
kayaknya 2007 deh taff
:D
iraha atuh showcase deui?
nyieun deui taff, urang ngiluan :D
heterologia wrote on May 9, edited on May 9
kayaknya 2007 deh taff
Oh iya bener. Tuh udah gua ganti...
kertasemaya wrote on May 9
makasih taff sudah berbagi ya, salut buat kalian semuah di bandung! hebat banget :)
dewideme wrote on May 9
pembahasan yang cukup komprehensif..hoho..gua juga seneng, di tengah berbagai keterbatasan, tapi pegiat2 komunitas kreatif (btw, komunitas kreatif itu yang kayak gimana ya? heuheueheu, lagi nggak penting mempermasalahkan definisi ;P) bisa tetep berkarya.. tapi di antara berbagai dukungan yang diharapkan bisa datang dari eksternal, yang nggak kalah penting adalah perbaikan internal dari komunitas kreatif itu sendiri..ambil contoh, kejadian AACC kelabu kemarin itu.. ya memang ada kurang di sini dan di situ (ruang publik, aparat btggjwb, dst), tapi bagaimana komunitas kreatif (musisi, fans, dst..) bisa menghindari benturan di salam tubuhnya sendiri..
ykme wrote on May 9, edited on May 9
Kalau gw ikut seminar tentang ekonomi kreatif kok selalu hubungannya sebatas film, musik,dan clothing sih, kenapa yah?
Mungkin karena apa yang dilihat oleh orang luar adalah fenomena ekonomi kreatif yang digagas oleh anak muda. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang menjadi daya tarik bandung bermula dari clothing yang semakin mewabah dan musisi musik yang melimpah. Dan baik (independent) clothing, musik, dan film di Bandung bersamaan muncul pada '98 (walaupun musik sebenernya sudah beberapa tahun sebelumnya berkembang) sebagai respon dari kondisi sosial.

Semangat anak muda yang mengusung independensi berkenaan dengan gerakan subculture yang melakukan perlawanan terhadap hal-hal mainstream melalui cara mereka masing2. selain itu, para pelaku (th '98) pun melakukan counter hegemoni terhadap kondisi sosial politik yang runyam pada masa itu. Dengan kekuatan mereka, mereka membangun jati diri mereka sendiri yang ternyata menghasilkan (ada nilai ekonomi) bahkan membentuk gaya hidup yang diikuti oleh banyak anak muda lainnya.

Menarik ko membuat skripsi tentang ekonomi kreatif. banyak banget yang bisa diulik. ya ga taff?

-yk-

ps: mungkin juga karena bidang-bidang lainnya memiliki keterbatasan komunikasi dengan pihak2 yang membuat seminar/diskusi. film, clothing, dan musik memiliki Common Room sebagai sebuah organisasi yang menjadi wadah bagi mereka dan mediasi dengan pihak lain. sehingga terlihatnya seminar berkenaan dengan industri/ekonomi kreatif seringnya yang gitu2 aja. ya, mungkin juga karena masih minimnya pemahaman akan ekonomi kreatif bagi pemerintah ataupun instansi2 lainnya. hanya melihat apa yang sedang tumbuh dan berpotensi lalu melupakan yang lain (hehe, mungkin yaaa..)

Comment deleted at the request of the author.
heterologia wrote on May 10, edited on May 10
Hehehe..kalo boleh jujur, gua sebetulnya udah bosen sama topik ini. Gua ngerti kalo di Indonesia kita punya potensi yang luar biasa di bidang ini. Apa sih yang kita nggak punya? Sumber daya manusia kita banyak banget. Sumber daya alam udah nggak usah diomongin lagi. Keberagaman budayanya juga udah gila-gilaan.

Yang gua kurang suka adalah pembicaraan tentang ekonomi kreatif kayaknya lebih banyak ngomongin cerita yang manis-manis tapi nggak ada kajian yang kritis. Masalahnya jadi nggak ke eksplor dan masyarakat terbuai mimpi dan berharap ini bisa jadi panacea alias obat manjur bagi masalah ekonomi.

Gua sih sebetulnya daripada ngomongin masalah ekonomi kreatif lebih ngerasa kalo sebaiknya kita kasih perhatian ke masalah yang lebih mendasar. Pendidikan dan penegakan hukum misalnya. Sekarang ini obrolan tentang ekonomi kreatif menurut gua hanya jadi obrolan sekelompok elit masyarakat aja. Sebagian besar masyarakat kita boro-boro mikirin ginian. Mereka kayaknya udah ribet sama masalah antri gas dan minyak tanah. Satu hal yang masih membuat gua tertarik buat ngomongin adalah karena fenomena ini sangat bergantung sama talenta individu. Artinya, siapapun mustinya bisa ikutan.
pelacurkorporat wrote on May 10
gue udah lama ngeliat keironisan industri kreatif di Bandung. Udah gak usah diomongin lagi potensi SDM industri ini di sana. Dari gue kecil sampe sekarang, kayaknya orang-orang Bandung udah identik sama dunia ini. Dari mulai seni rupa sampai musik, produk bagus lekat dengan daerah ini. Tiap kali ada seniman/designer/band bagus, sering orang otomatis mencap "Oh, ini anak Bandung ya?". Dan hampir semua perusahaan kreatif -atau perusahaan apapun, di divisi kreatifnya - yang pernah gue datangi, isinya mirip dengan paguyuban orang Sunda.

Tapi anehnya, industri ini kayak gak berkembang di Bandung. Hampir semua orang-orang kreatif - terutama yang berkecimpung di industri - berkarir di Jakarta. Seorang teman yang berdomisili di Bandung pernah ngomong "Lo kalo mau cari duit di Bandung mah, palingan kerja di bank atau jualan asuransi. Atau paling mentok, bisnis clothing." Teman-teman lain, walau ngga memberi pernyataan seapatis itu, secara gak langsung mengiyakan pendapat seperti itu.

Kadang gue suka kepikiran, apa yang salah dengan dengan industri kreatif di sana, karena gue sendiri orang Jakarta, bukan Bandung. Apa gak ada dukungan dari pemerintahan propinsi Jawa Barat/pemkot Bandung atau ada hambatan bagi investor untuk menanam modal disana, atau bagaimana? Atau ada hambatan dari segi sosial dan attitude berbisnis disana? Kalau gue jadi Gubernur Jabar/Walikota Bandung, gue pribadi akan mempertanyakan kenapa potensi daerah sebesar ini bisa terbuang ke daerah lain terus-menerus selama bertahun-tahun tanpa ada perhatian serius. Mungkin ini akan jadi perhatian bagi sang gubernur baru dan wakilnya, si model iklan obat sakit kepala itu? Entahlah.
ivankampak wrote on May 11
kebanyakan orang bandung itu bukan tipe orang yang konsumtif, karena pendapatannya juga kecil. maka dari itu orang bandung itu lebih suka membuat sesuatu daripada membeli. Inilah yang menyebabkan ekonomi kreatif berkembang di bandung. Saya setuju sama anggapan kalau mau cari duit itu di Jakarta. Tapi kalo mau buang uang ya di bandung tempatnya. bagi2 rejeki tepatnya.
discomfort wrote on May 11
Tapi kadang2 yg nyebelin bukan cuman orang dari "luar" industri kreatif yang gak mensupport, seringkali org "dalem" nya juga gak profesional. Bagian dagang pengen mahal, bagian bayar orang pengen murah. "harga temen lah brad" katanya.. 1-2 events sih gak papa, kalo keterusan gimana mo berkembang coba? Kapan mau profesionalnya?
heterologia wrote on May 12
seringkali org "dalem" nya juga gak profesional
Ini banget Ang yang gua nggak suka sama iklim di Bandung. Gara-gara faktor "temen" apa-apa pengen di bikin gampang dan murah. Gua sih ngeliatnya ini masalah etika aja. Sebetulnya nggak apa-apa sih saling bantu, asal bisa saling menguntungkan juga. Kecuali memang sejak awal udah pada sadar kalo yang lagi dikerjain emang kegiatan buat volunteer. Kalo masalah bisnis mustinya sih harus bisa saling menguntungkan. Kalo salah satu rugi dan harus nombok itu namanya profit sharing ala Bandung..."Lu yang profit, gua yang sharing" <--- Tah yang ini namanya belegug. Di Bandung menurut gua banyak pisan orang yang belegug. Makanya susah banget buat berkembang.

Mungkin musti orang luar Bandung yang ngembangin bisnis kreatif yang profesional di sini. Gua yakin ini bisa jadi investasi bangus kalo dipersiapkan dengan baik. Selama ini menurut gua orang Bandung udah terlalu ngerasa nyaman sama iklim yang butut kayak sekarang. Banyak yang terjebak sama comfort zone palsu. Kebanyakan pelaku bisnis kreatif di Bandung sebetulnya rada-rada garing juga menurut gua. Yang paling butut karena rada-rada primordial, banyak kkn, dan kadang ada yang kerja ala mafia en preman. Kalo aja iklim bisnis di Bandung bisa lebih profesional, mustinya potensi yang ada sekarang bisa berkembang lebih bagus dan sustainable.
discomfort wrote on May 12
Bener bgt taff.. nah, impact dari ketidak-profesionalan ini lah yang mengakibatkan hijrah besar2an pekerja kreatif bdg ke kota laen yg lebih bisa mengapresiasi talent mereka (seperti yg ditulis reza "pelacurkorporat"). Dan ini gak bisa misalnya, kita kerja di Bdg tp client di Jkt. Soalnya kalo gitu tetep aja sama org luar kota dihargainnya "Harga Bandung". Yg artinya, akibat ngasih harga sembarangan tadi itu, kerjaan org2 Bandung dianggap "murah".. sayang kan?
heterologia wrote on May 12
akibat ngasih harga sembarangan tadi itu, kerjaan org2 Bandung dianggap "murah".. sayang kan?
Masih untung Ang kalo dianggap murah. Yang lebih nyebelin sih kalo kerjaannya jadi "gratisan"...ancur ini mah..
discomfort wrote on May 12, edited on May 12
ancur tapi kejadian kok taff.. murah yg gw maksud juga murah dalam artian cendeung gretong gitu, kayak, dibayar tapi cuman fee transport & konsumsi, sementara dia bikin event dapet sponsor.. geuleuh kan? Org gw sempet disamperin manajemen sbuah band papan atas, minta divisualin tapi "TEST DULU", ini pun cenderung minta dibikinin video klip gituhhh, TAPI MAUNYA GRATIS!! ngehe gak tuh..
heterologia wrote on May 12, edited on May 12
ancur tapi kejadian kok taff.. murah yg gw maksud juga murah dalam artian cendeung gretong gitu, kayak, dibayar tapi cuman fee transport & konsumsi, sementara dia bikin event dapet sponsor.. geuleuh kan? Org gw sempet disamperin manajemen sbuah band papan atas, minta divisualin tapi "TEST DULU", ini pun cenderung minta dibikinin video klip gituhhh, TAPI MAUNYA GRATIS!! ngehe gak tuh..
Kisah nyata inimah. Gua aja yang nggak terjun langsung ke bisnisnya suka miris kalo temen-temen gua cerita tentang kasus kayak beginian. Dari cerita-cerita kayak gini, gua ngerasa emang di Bandung banyak banget orang yang ngehe kayak begini. Makanya gua bilang juga masih banyak yang ngejalanin bisnis kayak model mafia atau gangster. Maunya petantang-petenteng asal keren doang. Bagian musti bayar malah clingak-clinguk sambil nyengir kayak ketangkep siang siang ma ling seng. Gua yakin kalo gini-gini terus Bandung gak bakal bisa maju. Yang ada talent2 yang ada pada kabur ke kota laen. Bisnis kreatif di Bandung belom bisa sustainable gara-gara banyak preman.
hirukpikuk wrote on May 12, edited on May 12
Di Bandung menurut gua banyak pisan orang yang belegug. Makanya susah banget buat berkembang.
DUh kalimat ini yang seharusnya orang Bandung tau maksud dan arti katanya. Kalo dia bisa buka mata aja dan liat potensi yang mereka punya. Gw percaya, pastinya bukan berhasil di Indonesia doang, yah kancah DUnia juga sampe kalee...
Ide kreatif dan potensi kekeluargaan yang di miliki warga Bandung ngebuat "senior-seniornya" ga pelit untuk bagi ilmu untuk pendatang barunya.
Makanya di sisi lain atmosphere Bandung membuat banyak keuntungan untuk para pendatang baru yang pengen belajar tentang segala hal yang berbau Art and design.Makanya budaya "harga temen" kentel banget di aliran darah seniman BAndung. Bukan begitu saodara?.
Gw juga punya pengalaman yang miris banget dengan kata kata "Harge temen". Saking harga temennya kita ahirnya PH yang kita bikin selama 3 taunan BUbar Jalan dooong....hahahha..parahhh.....Well sangat di butuhkan juga ke Profesionalan sistim marketing dan management yang kuat untuk tetap bertahan lahan Bandung tercinta ini....Maklum balalegug sih...:P
discomfort wrote on May 12
Tuh, testimonial lagi kan? Kayaknya sebelum kita nuntut government utk ngebantu creative industry, kyknya kita musti minta "rekan2 sejawat" dulu deh utk goes professional. Bullshit kalo kita minta dianggep serius sama org kalau kitanya sendiri gak nganggep kerjaan org2 sesama pelaku kerja kreatif ini secara serius dan profesional. Taikucs lah..
heterologia wrote on May 13
Wah, kalo mau buka testimoni yang blak-blakan pasti bakal banyak tuh yang kebuka boroknya. Gua nggak tau apa masalah ginian hanya terjadi di dunia entertainment aja atau hampir di semua bidang. Kalo yang gua liat sebetulnya di Bandung yang rada-rada gamang itu karena kebanyakan orang nggak bisa ngebedain antara bisnis profesional dan amatir. Mungkin karena di sini banyak mahasiswa yang baru mulai meniti karir sehingga rela dipirit dengan attitude bisnis yang amatiran. Dampaknya terus ngerembet kepada para pelaku yang memang udah profesional deh. Kebayang kan seniman dan desainer yang udah pro tapi dikasih harga mahasiswa. Ya lama-lama kita bangkrut dong.

Gua pernah ngalamin sendiri tuh diminta sama seorang bos bisnis entertainment di Bandung buat bikin sebuah konsep pameran dan pertunjukan. Setelah obrol sana obrol sini, si doi intinya minta kita ngerjain proyeknya dan ngasih janji surga kalo acara ini sukses, kita-kita bakal kebagian rezeki. Nah, pas konsep awal udah dibikin dan gua kasih pengajuan harga yang sesuai dengan standar, eh Boss-nya malah ngilang tuh gak tau kemana.

Dari awal gua sih nggak keberatan sama proyek gratisan asal komitmennya emang volunteer aja. Buat yang ini khusus buat kegiatan-kegiatan non-profit ajalah. Lumayan juga sebetulnya. Kegiatan-kegiatan non-profit sebetulnya bisa jadi ajang buat meniti karir ke arah yang lebih profesional juga kalo emang dikerjain secara serius. Cuma yang musti diinget, kegiatan non-profit juga mustinya sih nggak identik sama kerja gratisan. Gua sih ngeliatnya lebih ke gotong royong. Tapi tetep aja ada budget minimum supaya yang terlibat nggak harus nombok. Harus ada kesadaran yang sama dan semua pihak yang terlibat juga memang punya intensi yang sama supaya semuanya bisa enjoy.

Tapi kalo udah ada aspek-aspek komersial, mustinya sih semua diperhitungkan secara profesional. Ini lebih ke masalah kesadaran dan etika aja. Malu dong kalo ngembangin bisnis tapi diem-diem kita ngerugiin orang lain. Sayang kalo atitude bisnis di Bandung harus amatiran terus. Selain bisnisnya nggak bakal berkembang, dijamin kita bakal terus-terusan kehilangan talent-talent terbaik karena kabur ke kota lain.
heterologia wrote on May 19, edited on May 19
Dan ini gak bisa misalnya, kita kerja di Bdg tp client di Jkt. Soalnya kalo gitu tetep aja sama org luar kota dihargainnya "Harga Bandung".
Gua jadi mikir kenapa artis/ desainer yang tinggal di Bandung sama orang luar kota Bandung selalu dibayar dengan harga Bandung. Malah sama orang Bandung juga kadang suka dihargain murah ataw gratisan alias cap teng kiu. Garing euy di Bandung teh suka ada kebiasaan banting-bantingan. Gua tau karena gua juga ngalamin sendiri. Beberapa ada temen gua yang punya kebiasaan kayak gitu. Kadang suka kesel sendiri gua kalo ketemu sama orang-orang kayak gini. Jadinya yang dijadiin patokan bukan di kualitas, tapi harga yang murah. Citranya Bandung jadi pusat cheap creative labor gitu...
hirukpikuk wrote on May 20, edited on May 20
Nah,bener juga kenapa bisa gitu yah?.
Padahalkan hasil karyanya malah jadi role model untuk perkembangan desain di indonesia (meskipun tidak semuanya). Seharusnya harga di tawarin harus standart harga profesional profesi. Mungkin karena banyaknya yang baru memulai berkarier jadi sama mereka (desainer / artist) di jadiin porto folio bagi para pemula yang berkarya. Takut akan karya mereka yang tidak disukai atau di katakan tidak bermutu maka mereka banting harga bahkan sampe gratis.
Padahal sih mereka seharusnya udah matok harga standart bagi kaum profesional muda yang berbakat. Mau tak mau suka ga suka client harus bayar standart kan....
Jadi harga diBandung ga mungkin gratis / di bawah pasaran.Bener nga?.
Tapi kayanya sangat amat sulit...tapi kalo di coba??
discomfort wrote on May 20
berarti emang musti ada STANDARISASI HARGA yah, yg artinya musti ada semacem ASOSIASI PEKERJA KREATIF, baik di bandung atau kota2 laenya (karena ternyata hal ini juga kejadian di kota2 laen..sebagai contoh, beberapa temen gw di surabaya biasa nge VJ di club ternama di sana CUMA DIBAYAR PAKE MINUMAN ).. kalo gak ngaturnya gimana? Artinya musti ada konsensusnya juga antara para pekerja kreatif ini..

Taff, apa udh waktunya bikin NCLC (National Creative Labour Conference)?
heterologia wrote on May 21, edited on May 21
hal ini juga kejadian di kota2 laen..
Iya tuh Ang, gua juga ngerasa kalo masalah ini sebenernya juga kejadian di kota-kota lain. Talent dan kreatifitas belum dapet posisi yang pantas di bidang industri kayaknya. Makanya waktu pemerintah kita bikin kampanye pengembangan ekonomi kreatif gua rada-rada skeptis mengingat di bidang industri, pekerja kreatif di Indonesia sebetulnya dapet insentif yang paling kecil ketimbang bidang-bidang yang laen. Buktinya ada VJ yang dibayar pake minuman doang. Di beberapa daerah kondisinya malah lebih parah kali yah.

Ilustrasi yang paling gampang kalo kita liat artist & desainer di negara maju. Di sana posisi artist & desainer sangat menentukan arah perkembangan industri. Malah kayaknya perkembangan teknologi juga sangat dipengaruhi sama talent dan kemampuan di bidang kreatifitas. Di Indonesia artist & desainer masih diliat sebagai tukang ganjel alias kuli kayaknya. Di sini masih banyak orang mikir kalo kreatifitas itu dekorasi doang dan murah harganya. Jarang banget tuh gua liat artist atau desainer di Indonesia yang bisa bener-bener hidup dari karya mereka. Kalaupun ada paling cuma segelintir doang. Buat negara sebesar Indonesia ini teh dogol sebetulnya.
heterologia wrote on May 21, edited on May 21
Seharusnya harga di tawarin harus standart harga profesional profesi.
Nah, ini yang gua rasa jadi sumber masalahnya. Belom banyak orang Indonesia yang ngeliat kalo karir di bidang kreatif itu adalah karir profesional yang sama-sama harus dibayar layak seperti halnya karir profesional di bidang laen. Mungkin baru beberapa bidang aja yang udah dapet pengakuan seperti semisalnya advertising dan arsitektur. Di bidang yang lain banyak yang masih jomplang sebetulnya. Dalam pengertian yang tradisional, yang susah di Indonesia kreatifitas itu identik sama klangenan alias kegiatan hobi di waktu luang. Jadinya kebanyakan nggak ngeliat ini sebagai sebuah karir profesional. Mungkin gara-gara ini juga standar harga dan etika profesinya sampe sekarang bisa dibilang nggak ada.
heterologia wrote on May 21
Taff, apa udh waktunya bikin NCLC (National Creative Labour Conference)?
Hehehe...gua nggak kebayang gimana bikin yang versi nasional...bikin yang lokal aja kayaknya ribet Ang..
discomfort wrote on May 21
Emang gak bisa sendiri sih taff, tapi coba kerjasama sama sentra2 kreatif (anying sentra, getek kieu bahasana.. hahahaha) lainya, baik lokal, regional, maupun internasional. Too much effort gak? Eh, kapan atuh ke jkt lg? Ulin atuh anying teh.. gobod maneh..
Comment deleted at the request of the author.
heterologia wrote on May 22
Eh, kapan atuh ke jkt lg? Ulin atuh anying teh.. gobod maneh..
Goblog erek ka Jakarta teh tara jadi wae. Si Dante beranak euy...tapi anaknya mati 3 ekor Ang..sedih urang...untung aya keneh si oncom, jadi aya hiburan..hahahha...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help